MEDIA PEMBELAJARAN POHON PERKALIAN

Media pembelajaran Pohon Perkalian tergolong sebagai media nonproyeksi yang berupa model, karena pada media pembelajaran Pohon Perkalian memiliki ruangan berupa gelas Aqua yang diistilahkan sebagai buah dari pohon. Media pembelajaran ini dapat digambarkan berupa pohon-pohonan yang rimbun. Pohon-pohonan itu memiliki buah yang didalamnya terdapat isi dari buah tersebut. Pohon-pohonan itu juga dapat berupa lukisan pohon yang rimbun pada papan styrofoam berukuran 1 m x 1 m dan sudah diwarna seperti pohon. Buah dari pohon tersebut dapat berupa gelas minuman yang sudah bekas. Isi dari buah dapat berupa kelereng.
Media Pembelajaran
Media Pembelajaran
Cara menggunakan media pembelajaran Pohon Perkalian tersebut adalah misalnya dalam mengerjakan soal berikut:

1. 2 x 7 = … Siswa memasukkan 7 buah kelereng ke dalam 2 gelas minuman yang sudah bekas.

2. 7 x 2 = … Siswa memasukkan 2 buah kelereng ke dalam 7 gelas minuman yang sudah bekas.

Artikel terkait:
Pengertian Media Pembelajaran
Jenis-jenis Media Pembelajaran
Trik Perkalian 11
Trik Perkalian 25
Perkalian Cepat



JENIS-JENIS MEDIA PEMBELAJARAN

media pembelajaran
media pembelajaran

Brown (dalam Sudrajat, 2008:1) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Sehingga, seorang guru sebagai sumber belajar seharusnya menyediakan beraneka ragam benda sebagai media instruksional dalam setiap pembelajaran, termasuk pembelajaran Matematika siswa kelas IV yang rata-rata berumur 9-10 tahun karena dalam periode ini termasuk periode konkret. Dengan media konkret, siswa tidak berfikir abstrak lagi dan siswa dapat memahami konsep lebih cepat.

Menurut Nugraha (2008:3-4), media pembelajaran dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Media nonproyeksi; meliputi:

a. Model, yaitu benda nyata yang dimodifikasikan.

b. Bahan grafis, yaitu media visual nonproyeksi yang mudah digunakan karena tidak membutuhkan peralatan dan relatif murah.

2. Media yang diproyeksikan; meliputi:

a. OHT (overhead transparansi), yaitu media yang paling banyak digunakan karena hanya membutuhkan bahan transparansi dan alat tulis.

b. Slide, yaitu media visual yang penggunaannya diproyeksikan ke layar lebar.

3. Media audio, yaitu media yang fleksibel karena bentuknya yang mudah dibawa, praktis, dan relatif murah (misal tape compo, pengeras suara).

4. Media video. Media ini digunakan sebagai alat bantu mengajar pada berbagai bidang studi.

5. Media berbasis komputer. Media ini dapat meningkatkan efektivitas proses pembelajaran yang sangat tinggi karena terjadi interaksi langsung antara siswa dengan materi pembelajaran.
Media Pembelajaran
Media Pembelajaran








Artikel terkait:
PENGERTIAN MEDIA PEMBELAJARAN








PENGERTIAN MEDIA PEMBELAJARAN







Media berasal dari bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar, yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan (Sudrajat, 2008:1).

Menurut Purnamawati dan Eldarni (dalam Kusumah, 2008:1), media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar.

Sejalan dengan pendapat Sadiman (1986:7) yang mengemukakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar dapat terjadi. Pesan yang dimaksud adalah materi pelajaran yang diberikan guru kepada siswa sehingga siswa termotivasi untuk menerima materi pelajaran.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa media merupakan alat perantara untuk menyampaikan ide, pesan dan gagasan. Pesan ini berupa materi pelajaran dari pengirim (guru) kepada penerima pesan (siswa). Karena fikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa dapat terangsang sedemikian rupa sehingga proses belajar dapat terjadi.

MENGELOLA KERIBUTAN SISWA DI KELAS

Keributan siswa di kelas saat proses belajar berlangsung sangat sering terjadi. Tetapi keributan siswa di kelas saat KBM berlangsung tidak selalu mengindikasikan jeleknya kualitas mengajar atau KBM yang sedang berlangsung. Bahkan pada tataran dan taraf tertentu keributan tersebut justru menunjukkan kreativitas para peserta didik. Karenanya, siapa saja yang menjadi pemeran dalan proses belajar mengajar hendaknya mampu mengelola keributan siswa di kelas

Berikut beberapa teknis yang bisa diterapkan untuk mengelola keributan siswa di kelas agar menjadi lebih kondusif:

Berilah siswa pemahaman bahwa mereka boleh berkomunikasi dengan temannya saat pelajaran berlangsung sehingga keributan yang terjadi memang keributan yang terkait dengan pelajaran.

Buatlah indikator tingkat keributan yang bisa ditoleransi dan tingkat keributan yang harus dihindari.

Saat terjadi keributan, jangan memukul-mukul meja atau apa saja yang justru akan menambah suasana menjadi ramai dan tidak kondusif.

Mengelola keributan siswa di kelas dengan tindakan yang disenangi oleh anak dan mereka mudah melakukan instruksi yang kita lakukan. Contoh dari teknik ini antara lain:

mengajak anak menjawab halo ketika mereka mendengar suara halo dari kita. Hal ini akan lebih efektif ketika disepakati terlebih dahulu di awal pelajaran

buatlah sebuah tepuk permainan yang bisa dikerjakan dengan mudah oleh peserta didik sehingga saat sebagaian besar siswa mengikuti intruksi kita, siswa yang ramai pun akan segera mengikutinya

Ajak siswa melakukan gerakan yang sama, misal angkat tangan bersama, berdiri melambaikan kedua tangan dengan tanpa mengeluarkan suara dan sebagainya

Hindari mendiamkan siswa dengan cara teriak-teriak. Cara ini justru akan menjadikan keributan kelas semakin bertambah

Berilah reward bagi siswa yang bisa menjaga diri dari membuat keributan dan mampu memahami pelajaran dengan baik.

Jika mampu mengelola keributan siswa di kelas dengan efektif maka dipastikan dampak negatif dalam pembelajaran dapat diminimalisir sehingga hasil pembelajaran yang dihasilkan sesuai dengan harapan.

MENGENAL SEKILAS TUMO

Kata Tumo merupakan penerjemahan kata candali ke dalam bahasa Tibet (Kata aslinya adalah Tumo, g di depan kata Tumo adalah penyesuaian oleh orang Barat, yang tidak bisa mengucapkannya dengan baik tanpa huruf g tersebut, sekarang kata gTumo inilah yang lebih dikenal). Tumo dikenal sebagai teknik yang diajarkan oleh para Lama Tibet. Tumo sendiri terdiri dari Tumo esoterik, Tumo eksoterik dan Tumo mistik. Perbedaan antara Tumo esoterik dan Tumo eksoteris tipis sekali, di mana Tumo eksoteris adalah Tumo yang diaplikasikan untuk penyembuhan. Sedangkan gTumo mistik mencakup penguasaan mantra.

Seseorang bisa mendapatkan Tumo dengan melalui usaha sendiri (yaitu dengan melatih napas) atau dengan mendapatkan angkur dari seorang Vajra Master. Tentu saja cara yang paling mudah adalah dengan mendapatkan angkur dari seorang Vajra Master. Tumo sendiri awalnya merupakan teknik untuk mempertahankan diri di suhu yang sangat dingin, karena di Tibet (Pegunungan Himalaya) suhunya bisa mencapai beberapa derajat di bawah nol. Banyak cerita yang menyebutkan orang Tibet yang duduk di atas es dan bisa melelehkan es tersebut dan badan orang tersebut berkeringat.

Tumo merupakan teknik mistik yang berasal dari ajaran seorang Pandita India, yaitu Naropa, (biasa dikenal sebagai enam tahapan yoga Naropa) yang bisa dilihat di bawah ini.
Candali (Tumo)
Mayakaya
Svapna
Prabhasvara
Antarbhava
Mahamudra

Tumo sendiri lebih mirip tenaga dalam. Dengan melatih Tumo secara rutin, jumlah tenaga dalam meningkat dengan cepat. Semakin rajin akan semakin baik kualitas energi yang bisa disalurkan. Memang sebaiknya untuk mencapai hasil yang terbaik anda harus mendapatkan angkur tingkat 3 atau Vajra Master. Tumo berbeda dengan tenaga dalam lain yang menarik energi dari luar untuk ditimbun di tubuh (tantien). Dalam Tumo yang terjadi adalah perubahan energi unsur air (ojas) menjadi energi unsur api (tejas). Di dalam tubuh manusia terdapat 3 jenis energi yaitu:
Prana, berunsur angin, sumbernya dari pernapasan.
Ojas, berunsur air, sumbernya dari minuman dan cairan, meliputi buah-buahan, air yang kita minum, susu, sayuran segar dan sebagainya.
Tejas, berunsur api, sumbernya dari makanan padat, meliputi makanan keras, padat, daging, ikan, telur, acar, dan bawang-bawangan.

Tumo menggunakan energi tejas, yang berunsur api, sehingga sifatnya panas. Dari pengamatan saya, hasil latihan Tumo sangat cepat. Mungkin ini disebabkan dalam latihan Tumo yang diolah adalah energi di dalam tubuh, yaitu merubah ojas menjadi tejas, sehingga hasilnya bisa lebih cepat.

Tingkatan dalam Tumo

Dalam Tumo terdapat 4 tingkatan, yaitu :
Tingkat Pertama (Respa)
Tingkat Kedua (High Respa)
Tingkat Ketiga (Master)
Tingkat Vajra Master

Pada tingkat Respa, praktisi akan mendapatkan angkur (inisiasi), di mana dalam proses angkur tersebut akan dibuka jalur energi dari praktisi, pembukaan tantien, serta energi angkur akan menjadi modal dasar bagi praktisi. Segera setelah mendapatkan angkur praktisi dapat menyalurkan energi Tumo bagi dirinya dan orang lain.

Pada tingkat High Respa, praktisi akan mendapatkan angkur tingkat kedua, di mana dengan angkur tersebut akan dibuka jalur yang lebih lengkap dari tingkat pertama. Setelah mendapatkan angkur tingkat dua, tingkat energi Tumo seorang praktisi akan meningkat 108 kali lipat dari tingkat pertama. Selain itu praktisi akan diberikan hak untuk menggunakan simbol atau pola energi, yang bisa digunakan untuk penyembuhan atau untuk aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam tingkat Master, angkur yang diberikan akan meningkatkan tingkat energi praktisi menjadi 1000 kali lipat dari energi praktisi tingkat kedua. Pada tingkat ini praktisi akan diberikan pola energi tambahan (tergantung alirannya) dan juga teknik olah napas. Tingkat ke 3 ini diberikan secara selektif, karena pada tingkat ini energi seorang praktisi sudah cukup tinggi. Semakin tinggi tingkatan maka energi Tumo yang dimiliki akan semakin besar dan semakin halus.

Pada tingkat Vajra Master, praktisi tingkat 3 akan mendapatkan angkur tingkat ke empat. Dengan angkur ini, seorang praktisi mendapatkan wewenang untuk memberikan angkur dari tingkat respa sampai dengan tingkat Vajra Master kepada orang lain. Juga akan mendapatkan nama spiritual, perisai Vajra, senjata Vajra, dan kelengkapan lainnya. Selain itu pada tingkat Vajra Master diberikan pola negatifitas, sehingga tingkat Vajra Master ini diberikan sangat selektif. Jadi walaupun seorang Master Tumo memiliki dana yang cukup untuk mendapatkan angkur tingkat Vajra Master, kalau Master tersebut tidak berjodoh maka dia tidak akan mendapatkannya. Seorang Vajra juga memiliki keunikan dimana energi penyembuhan dari Vajra Master tersebut akan datang bila namanya disebutkan beberapa kali dalam pikiran.

Penyembuhan dengan Tumo

Dalam Tumo penyembuhan dilakukan dengan meniatkan menyalurkan Tumo, kemudian meletakan kedua telapak tangan di ujung tulang punggung (tengkuk) pasien, yang biasa disebut sebagai medulla oblongata. Penyembuhan cukup dilakukan sekitar 15 sampai 20 menit, tergantung dari tingkatan dari praktisi. Semakin tinggi tingkatan seorang praktisi maka akan semakin singkat waktu yang dibutuhkan dalam treatment. Untuk tingkat high respa ke atas, praktisi bisa menggunakan pola energi dalam proses penyembuhan dapat melakukan penyembuhan jarak jauh atau pun penyembuhan dengan pemrograman waktu.

Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari

Selain itu praktisi high respa dan yang lebih tinggi dapat menggunakan pola energi untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya untuk materialisasi, perlindungan, pukulan jarak jauh, pengasihan (saya sarankan jangan) serta hal lainnya sesuai dengan kebutuhan. Sebenarnya praktisi tingkat respa juga sudah bisa mengaplikasikan energi Tumo dalam kehidupan sehari-hari, dalam hal ini selain untuk penyembuhan, tapi tentunya semuanya dilakukan tanpa pola energi. Tentunya aplikasi Tumo yang utama adalah untuk bertahan hidup di daerah yang bersuhu sangat dingin.

Sumber dari kuntumcare.com